Kucing Merah Khas Kalimantan

Kucing Merah Khas Kalimantan - Hi, selamat sore berjumpa lagi bersama web info kucing terbaik dikesempatan ini kita akan membawa pembahasan hal mengenai seputar kucing terlengkap penyakit pada kucing dan kera lihat selengkapnya Kucing Merah Khas Kalimantan Supaya menerima ulasan ulasan lain nya yg pasti terbaik, silahkan kunjungi situs

Kucing Merah Khas Kalimantan - Hi, selamat sore berjumpa lagi bersama web info kucing terlengkap dikesempatan ini kita akan membawa pembahasan hal mengenai seputar kucing terlengkap Supaya menerima informasi informasi lain nya yg pasti terbaru, silahkan kunjungi situs https://seputarkucing18.blogspot.com

 

 

Kucing Merah yang melahirkan kucing kalimantan ataupun yang di bahasa latin disebut Pardofelis badia melahirkan salah ahad genus kucing kecil endemik tanah Kalimantan. Sayangnya tidak berjibun yang memahami kucing merah yang langka ini. Saya sendiri belum pernah kendatipun melihat Kucing Merah dari kalimantan ini, kendatipun di kebun binatang. Mungkin sobat sedia yang pernah melihatnya?

Baca juga esai Kucing Hutan Jenis Leopard , Kucing Bakau , Kucing Lucu Jenis Anggora

Info Kucing Merah singkatnya

Kucing Merah ialah salah ahad spesial kucing kecil yang berasal dari tanah Kalimantan. Namun tidak berjibun yang memahami kucing langka ini. Kucing ini berumah di hutan-hutan tropis alun-alun aib yang lebat. Kucing Merah disebut juga sebagai Kucing Borneo. Diperkirakan kucing merah telah, sedia sejak 4 juta warsa silam saat tanah Kalimantan sedang bersatu dengan daratan Asia. Namun populasi kucing ini kini tidak diketahui dengan pasti. Di Indonesia dan Malaysia, Kucing Merah termasuk binatang yang dilindungi dari kepunahan.

Ciri fisik Kucing Merah:

1. Bulu berwarna coklat kemerah-merahan walaupun sedia versi yang berwarna keabu-abuan.

2. Bagian kaki (gunung) awak berwarna bertambah kucam daripada belahan atas. Terdapat garis bermacam-macam ahmar kecokelatan gamak anak muda pada kening dan pipi.

3. Telinga berwarna bolong ataupun cokelat tua, dan pada ekor bergaris kucam dengan bintik bolong diujung ekor.

4. Bertubuh ramping bertambah dengan panjang sekitar 55 cm dengan ekor yang panjangnya berkeliling 35 cm.

5. Berat awak jarak 2,3 -4,5 kg.

Karakter Kucing Merah:

1. Kucing Merah termasuk binatang yang berjibun aktifitas di lilin lebah hari untuk mengejar burung, tikus, dan monyet.

2. Selain seekor pemburu, Kucing Merah juga memajuh bangkai-bangkai binatang yang terdapat di hutan.

3. Kucing Merah memijak dewasa dan matang secara erotis pada usia jarak 18-24 bulan. Kucing endemik kalimantan ini mempunyai masa kehamilan sekitar 70-75 hari dengan beranak 1-3 ekor anak di sekali masa kehamilan.

Detail Kucing Merah Khas Kalimantan

Kucing Merah disebut juga sebagai Kucing Kalimantan ataupun Kucing Borneo. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Borneo Bay Cat, Bay Cat, Bornean Bay Cat, dan Bornean Marbled Cat. Di Malaysia binatang yang juga menghuni Serawak dan Sabah ini dikenal dengan Kucing Merah. Sedangkan di bahasa latin disebut sebagai Pardofelis badia, yang bersinonim dengan Catopuma badia dan Felis badia.

Kucing ahmar kalimantan

Kucing Merah ini melahirkan saudara ambang dan sedang ahad nenek leluhur dengan Kucing Emas (Asian Golden Cat) yang berjibun terdapat di Sumatera, dan kaum negara Asia Tenggara. Diperkirakan kucing endemik kalimantan ini menebak sedia sejak 4 juta warsa yang silam saat tanah Kalimantan sedang bersatu dengan daratan Asia.

Ciri-ciri dan Perilaku. Kucing Merah (Borneo Bay Cat) mempunyai bulu berwarna coklat kemerah-merahan walaupun sedia versi yang berwarna keabu-abuan. Bagian kaki (gunung) awak Kucing Kalimantan berwarna bertambah kucam daripada belahan atas. Terdapat garis bermacam-macam ahmar kecokelatan gamak anak muda pada kening dan pipi. Telinga kucing langka ini berwarna bolong ataupun cokelat tua, dan pada ekor bergaris kucam dengan bintik bolong diujung ekor.

Kucing Merah (Pardofelis badia)

Kucing Merah
Kucing merah

Kucing Merah mempunyai awak ramping bertambah dengan panjang sekitar 55 cm dengan ekor yang panjangnya berkeliling 35 cm. Kucing Merah  (Borneo Bay Cat) mempunyai beban awak jarak 2,3 -4,5 kg.

Belum berjibun yang bisa digali tentang perilaku kucing endemik Kalimantan yang langka ini. Kucing Merah (Pardofelis badia) termasuk binatang nokturnal yang berjibun beraktifitas di lilin lebah hari untuk mengejar burung, tikus, dan monyet. Selain seekor pemburu, Kucing Merah (Catopuma badia) juga memajuh bangkai-bangkai binatang yang terdapat di hutan.

Kucing Merah (Borneo Bay Cat) memijak dewasa dan matang secara erotis pada usia jarak 18-24 bulan. Kucing endemik kalimantan ini mempunyai masa kehamilan sekitar 70-75 hari dengan beranak 1-3 ekor anak di sekali masa kehamilan.

Habitat, Populasi, dan Konservasi. Kucing Merah Kalimantan (Pardofelis badia), hanya terdapat di tanah Kalimantan (Indonesia dan Malaysia) saja. Kucing ini berumah di hutan-hutan tropis alun-alun aib yang lebat hingga keagungan 900 meter dpl.

Karakteristik Kucing Merah

Kucing ahmar antara bertambah kecil daripada kucing emas Asia. Bulunya berwarna cokelat terang, dan bertambah kucam di awak belahan bawah, bulu di belahan kaki dan ekor gamak kucam dan merah. Ekornya memanjang, meruncing pada ujungnya, dengan garis kucam di bidang bawah, yang berwarna menjadi bertambah kucam ke ujung, dan sedia bercak bolong kecil di kesudahan atasnya. Telinga kucing ini bulat, bermacam-macam bulu pada belahan luar merupakan coklat kehitaman, meskipun belahan di berwarna bertambah terang.

Antara 1874 hingga 2004, hanya sedia 12 spesimen yang diukur. Panjang (kepala dan badan) membayangkan bervariasi 49,5 cukup 67 cm dengan panjang ekor jarak 30 cukup 40,3 cm. Kucing ini diperkirakan memiliki beban dewasa 3–4 kg, tetapi sedikitnya contoh hidup menjadikan sulitnya menentukan perkiraan yang bertambah terpercaya.

Kepala kucing ini pendek bulat dan berwarna coklat gelap keabu-abuan dengan duet garis gelap yang berasal dari sudut saban mata, dan belahan belakang kepala memiliki tanda yang berbentuk 'M' gelap. Bagian belakang alat pendengar yang keabu-abuan gelap, sedikit bintik-bintik kucam antara yang ditemukan pada berjibun genus kucing lainnya. Bagian kaki (gunung) dagu berwarna kucam dan sedia duet garis coklat samar di belahan pipi. Proporsi awak dan ekornya yang banyak panjang membuat kucing ini terlihat bagaikan Jaguarundi gaya baru

Penyebaran dan Habitat Kucing Merah

Kucing ahmar yang endemik Kalimantan dan tersebar secara banglas di tanah itu. Tapi sedia duet meditasi laporan di pedalaman tanah itu. Informasi ini menunjukkan bahwa membayangkan berbentuk di berbagai jenis habitat, bervariasi dari jenggala rawa, alun-alun aib dipterocarp jenggala cukup jenggala bukit cukup sekurang-kurangnya 500 m (1.600 ft). Pada pertengahan 1990-an, penampakan yang paling bisa diandalkan menebak dilaporkan dari Sungai Kapuas Hulu di Kalimantan Barat, dan di Taman Nasional Gunung Palung. Salah ahad penampakan belum dikonfirmasi berlaku pada 1.800 m (5.900 ft) di Gunung Kinabalu. One unconfirmed sighting occurred at 1,800 m (5,900 ft) on Mount Kinabalu.

Mereka berumah di jenggala tropis yang lebat, dan menebak diamati pada singkapan berbatu kapur dan jenggala bekas tebangan, dan kaum ambang dengan pantai. Setidaknya tiga spesimen ditemukan di ambang sungai, tapi ini agak-agak atas kemudahan kolektor daripada bukti opsi habitat. Dari warsa 2003 cukup 2005, 15 kucing ahmar tercatat di Kalimantan, Sabah dan Sarawak tapi tidak di Brunei. Catatan-catatan ini terdiri dari pengamatan oportunistik tunggal. Hampir segala notasi sejarah dan baru-baru ini ialah dari ambang diri cairan bagaikan sungai dan jenggala bakau, menunjukkan bahwa kucing ahmar agak-agak berhubungan erat dengan lingkungan tersebut.

Sebuah survei peragkap alat potret dari bulan Juli 2008 cukup Januari 2009 di belahan barat laut dari Sabah Deramakot Forest Reserve di daerah sekitar 112 km2 (43 sq mi) menghasilkan ahad foto dari kucing ahmar lelaki di upaya total sampling dari 1916 lilin lebah perangkap. Catatan ini memperluas jangkauan kucing ahmar ke utara.

Alfred Russel Wallace mengirimkan jangat mula-mula dan tengkorak kucing ahmar dari Sarawak ke British Museum of Natural History pada warsa 1855.Sebanyak tujuh jangat berbentuk selama dekade berikutnya, tetapi tidak cukup 1992 ialah spesimen hidup terjebak di Sarawak - perbatasan Indonesia dan dibawa ke Museum Sarawak, di ambang kematian.

Ekologi dan tingkah laku Kucing Merah

 Perilaku gaib dan nokturnal kucing merah, dan agak-agak kepadatan populasi yang rendah, agak-agak melahirkan penyebab penting dari kelangkaan penampakan. Survei bantau alat potret warsa 2003-2006 hanya menghasilkan ahad foto dari kucing ahmar di 5.034 lilin lebah perangkap. Menurut notasi anekdot belum dikonfirmasi dari Sarawak, kucing ahmar diamati pada badal 1 m (3,3 kaki) dari tanah ambang dengan sungai selama bestel mengejar malam. Seorang kolektor hewan lokal di ambang Lachau, Sarawak, mengaku bahwa ia tidak sengaja menjebak duet kucing ahmar pada kesempatan terpisah pada bulan Desember 2003. Dia melaporkan bahwa kucing ahmar mencampuri kandang dan menyerang burung itu. Satu kucing meninggal di penangkaran, dan lainnya dibebaskan.Tidak sedia yang diketahui tentang ekologi makan dan perilaku reproduksi

Ancaman dan Konservasi Kucing Merah

 Pardofelis badia terdaftar di CITES Appendix II sebagai Catopuma badia. Hal ini habis-habisan dilindungi akibat perundang-undangan nasional di sebagian besar jangkauannya. Perburuan dan bursa ialah dilarang di Kalimantan, Sabah dan Sarawak. Tidak sedia kucing ahmar di penangkaran

 Pardofelis badia terdaftar di CITES Appendix II sebagai Catopuma badia. Hal ini habis-habisan dilindungi akibat perundang-undangan nasional di sebagian besar jangkauannya. Perburuan dan bursa ialah dilarang di Kalimantan, Sabah dan Sarawak. Tidak sedia kucing ahmar di penangkaran.

Taksonomi dan Evolusi Kucing Merah

Pada warsa 1874, John Edward Gray mula-mula kali menjelaskan kucing ahmar berdasarkan binomial badia Felis tempat dasar jangat dan tengkorak yang dikumpulkan di Sarawak pada warsa 1856. Kucing ini mula-mula kali dianggap sebagai anak kucing dari kucing emas Asia. Pada warsa 1932, Reginald Innes Pocock meletakkan genus di jenis monotypic Badiofelis. Pada warsa 1978, ia ditempatkan di jenis Catopuma.In 1978, it was placed in the jenis Catopuma.



Jaringan dan darah sampel diperoleh hanya pada warsa 1992-an dari betina dibawa ke Museum Sarawak. Analisis morfologi dan genetika menunjukkan hubungan erat dengan kucing emas Asia, dan bahwa kedua genus menebak dipisahkan dari ahad nenek leluhur untuk 4,9-5,3 juta tahun, antara setelah pemisahan geologi Kalimantan dari daratan Asia.




Klasifikasi Kucing ahmar sebagai Catopuma secara banglas diakui cukup 2006. Karena hubungan ambang terlihat dari kucing ahmar dan kucing emas Asia dengan kucing marmer, disarankan pada warsa 2006 bahwa ketiga genus kudu dikelompokkan di jenis Pardofelis.

Kucing Merah Dalam Sankar

Kucing Merah
Kucing Merah

Populasi kucing langka ini cukup kini tidak diketahui dengan pasti. Karena itu 2002 Kucing Merah (Borneo Bay Cat) dikategorikan di kedudukan pelestarian “endangered” (Terancam Punah) akibat IUCN Redlist. Dan juga dimasukkan di Apendiks II CITES. Di Indonesia dan Malaysia, Kucing Merah termasuk binatang yang dilindungi dari kepunahan.

Terimakasih sudah membaca esai Kucing Merah Khas Kalimantan ini, moga-moga bermanfaat dan bisa melihat langsung Kucing Merah.

Referensi

1. Hearn, A., Sanderson, J., Ross, J., Wilting, A., Sunarto, S. 2008. Pardofelis badia. In: IUCN 2012. IUCN Red List of Threatened Species. Version 2012.2.

2. Mohd-Azlan, J., Sanderson, J. (2007). "Geographic distribution and conservation kedudukan of the bay pencelup Catopuma badia, a Bornean endemic". Oryx 41: 394–397.

3. Povey, K., Sunarto, H. J. G., Priatna, D., Ngoprasert, D., Reed, D., Wilting, A., Lynam, A., Haidai, I., Long, B., Johnson, A., Cheyne, S., Breitenmoser, C., Holzer, K., Byers, O. (eds.) CBSG. (2009) Clouded Leopard and Small Felid Conservation Summit Final Report. IUCN/SSC Conservation Breeding Specialist Group: Apple Valley, MN.

4. Gray, J. E. (1874) Description of a new Species of Cat (Felis badia) from Sarawak. Proceedings of the Scientific meetings of the Zoological Society of London for the year 1874: 322–323

5. Sunquist, M.E., Leh, C., Hills, D. M., Rajaratnam, R. (1994). "Rediscovery of the Bornean Bay Cat". Oryx 28: 67–70.

6. Sunquist, M., Sunquist, F. (2002). Wild cats of the World. Chicago: University of Chicago Press. pp. 48–51. ISBN 0-226-77999-8.

7. Meijaard, E. (1997) The bay pencelup in Borneo. Cat News 27: 21–23

8. Payne, J. C. M., Francis, C. M. and Phillipps, K. (1985) A field guide to the mammals of Borneo. The Sabah Society, Kota Kinabalu, Malaysia.

9. Mohamed, A., Samejima, H., Wilting, A. (2009) Records of five Bornean pencelup species from Deramakot Forest Reserve in Sabah, Malaysia. Cat News 51: 12–15.

10. Nowell, K., Jackson, P. (1996) Bornean Bay Cat. In: Wild Cats: kedudukan survey and conservation action plan. IUCN/SSC Cat Specialist Group, Gland, Switzerland.

11. Rautner, M., Hardiono, M., Alfred, R. J. (2005) Borneo: treasure island at risk. Status of Forest, Wildlife, and related Threats on the Island of Borneo. WWF Germany.

12. Pocock, R.I. (1932) The marbled pencelup (Pardofelis marmorata) and some other Oriental species, with a definition of a new jenis of the Felidae. Proceedings of the Zoological Society of London, 102: 741–766.

13. Hemmer, H. (1978) The evolutionary systematics of living Felidae: present kedudukan and current problems. Carnivore 1(1): 71–79.

14. Johnson, W. E., Ashiki, F. S., Menotti Raymond, M., Driscoll, C., Leh, C., Sunquist, M., Johnston, L., Bush, M., Wildt, D., Yuhki, N., O'Brien, S. J. and Wasse, S. P. (1999). "Molecular genetic characterization of two insular Asian pencelup species, Bornean Bay pencelup and Iriomote cat". Di Vasser, S.P. Nevo, E. Evolutionary Theory and Process: Modern perspectives, Papers in Honour of Eviatar Nevo. Dordrecht: Kluwer Academic Publishing. pp. 223–248.

15. Wozencraft, W. C. (2005-11-16). Wilson, D. E., and Reeder, D. M. (eds), ed. Mammal Species of the World (3rd edition ed.). Johns Hopkins University Press. pp. 545–546. ISBN 0-801-88221-4.

16. Johnson, W. E., Eizirik, E., Pecon-Slattery, J., Murphy, W. J., Antunes, A., Teeling, E. and O'Brien, S. J. (2006) The late miocene radiation of modern felidae: A genetic assessment. Science 311: 73–77.

 

sekian info mengenai Kucing Merah Khas Kalimantan, semoga info ini dapat menghibur kalian semua terima kasih

 

 

Artikel ini diposting pada kategori penyakit pada kucing dan kera, penyakit pada kucing dan cara mengatasinya, , tanggal 09-09-2019

|https://seputarkucing18.blogspot.com|seputarkucing18}

 

 

Kucing Merah yang melahirkan kucing kalimantan ataupun yang di bahasa latin disebut Pardofelis badia melahirkan salah ahad genus kucing kecil endemik tanah Kalimantan. Sayangnya tidak berjibun yang memahami kucing merah yang langka ini. Saya sendiri belum pernah kendatipun melihat Kucing Merah dari kalimantan ini, kendatipun di kebun binatang. Mungkin sobat sedia yang pernah melihatnya?

Baca juga esai Kucing Hutan Jenis Leopard , Kucing Bakau , Kucing Lucu Jenis Anggora

Info Kucing Merah singkatnya

Kucing Merah ialah salah ahad spesial kucing kecil yang berasal dari tanah Kalimantan. Namun tidak berjibun yang memahami kucing langka ini. Kucing ini berumah di hutan-hutan tropis alun-alun aib yang lebat. Kucing Merah disebut juga sebagai Kucing Borneo. Diperkirakan kucing merah telah, sedia sejak 4 juta warsa silam saat tanah Kalimantan sedang bersatu dengan daratan Asia. Namun populasi kucing ini kini tidak diketahui dengan pasti. Di Indonesia dan Malaysia, Kucing Merah termasuk binatang yang dilindungi dari kepunahan.

Ciri fisik Kucing Merah:

1. Bulu berwarna coklat kemerah-merahan walaupun sedia versi yang berwarna keabu-abuan.

2. Bagian kaki (gunung) awak berwarna bertambah kucam daripada belahan atas. Terdapat garis bermacam-macam ahmar kecokelatan gamak anak muda pada kening dan pipi.

3. Telinga berwarna bolong ataupun cokelat tua, dan pada ekor bergaris kucam dengan bintik bolong diujung ekor.

4. Bertubuh ramping bertambah dengan panjang sekitar 55 cm dengan ekor yang panjangnya berkeliling 35 cm.

5. Berat awak jarak 2,3 -4,5 kg.

Karakter Kucing Merah:

1. Kucing Merah termasuk binatang yang berjibun aktifitas di lilin lebah hari untuk mengejar burung, tikus, dan monyet.

2. Selain seekor pemburu, Kucing Merah juga memajuh bangkai-bangkai binatang yang terdapat di hutan.

3. Kucing Merah memijak dewasa dan matang secara erotis pada usia jarak 18-24 bulan. Kucing endemik kalimantan ini mempunyai masa kehamilan sekitar 70-75 hari dengan beranak 1-3 ekor anak di sekali masa kehamilan.

Detail Kucing Merah Khas Kalimantan

Kucing Merah disebut juga sebagai Kucing Kalimantan ataupun Kucing Borneo. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Borneo Bay Cat, Bay Cat, Bornean Bay Cat, dan Bornean Marbled Cat. Di Malaysia binatang yang juga menghuni Serawak dan Sabah ini dikenal dengan Kucing Merah. Sedangkan di bahasa latin disebut sebagai Pardofelis badia, yang bersinonim dengan Catopuma badia dan Felis badia.

Kucing ahmar kalimantan

Kucing Merah ini melahirkan saudara ambang dan sedang ahad nenek leluhur dengan Kucing Emas (Asian Golden Cat) yang berjibun terdapat di Sumatera, dan kaum negara Asia Tenggara. Diperkirakan kucing endemik kalimantan ini menebak sedia sejak 4 juta warsa yang silam saat tanah Kalimantan sedang bersatu dengan daratan Asia.

Ciri-ciri dan Perilaku. Kucing Merah (Borneo Bay Cat) mempunyai bulu berwarna coklat kemerah-merahan walaupun sedia versi yang berwarna keabu-abuan. Bagian kaki (gunung) awak Kucing Kalimantan berwarna bertambah kucam daripada belahan atas. Terdapat garis bermacam-macam ahmar kecokelatan gamak anak muda pada kening dan pipi. Telinga kucing langka ini berwarna bolong ataupun cokelat tua, dan pada ekor bergaris kucam dengan bintik bolong diujung ekor.

Kucing Merah (Pardofelis badia)

Kucing Merah
Kucing merah

Kucing Merah mempunyai awak ramping bertambah dengan panjang sekitar 55 cm dengan ekor yang panjangnya berkeliling 35 cm. Kucing Merah  (Borneo Bay Cat) mempunyai beban awak jarak 2,3 -4,5 kg.

Belum berjibun yang bisa digali tentang perilaku kucing endemik Kalimantan yang langka ini. Kucing Merah (Pardofelis badia) termasuk binatang nokturnal yang berjibun beraktifitas di lilin lebah hari untuk mengejar burung, tikus, dan monyet. Selain seekor pemburu, Kucing Merah (Catopuma badia) juga memajuh bangkai-bangkai binatang yang terdapat di hutan.

Kucing Merah (Borneo Bay Cat) memijak dewasa dan matang secara erotis pada usia jarak 18-24 bulan. Kucing endemik kalimantan ini mempunyai masa kehamilan sekitar 70-75 hari dengan beranak 1-3 ekor anak di sekali masa kehamilan.

Habitat, Populasi, dan Konservasi. Kucing Merah Kalimantan (Pardofelis badia), hanya terdapat di tanah Kalimantan (Indonesia dan Malaysia) saja. Kucing ini berumah di hutan-hutan tropis alun-alun aib yang lebat hingga keagungan 900 meter dpl.

Karakteristik Kucing Merah

Kucing ahmar antara bertambah kecil daripada kucing emas Asia. Bulunya berwarna cokelat terang, dan bertambah kucam di awak belahan bawah, bulu di belahan kaki dan ekor gamak kucam dan merah. Ekornya memanjang, meruncing pada ujungnya, dengan garis kucam di bidang bawah, yang berwarna menjadi bertambah kucam ke ujung, dan sedia bercak bolong kecil di kesudahan atasnya. Telinga kucing ini bulat, bermacam-macam bulu pada belahan luar merupakan coklat kehitaman, meskipun belahan di berwarna bertambah terang.

Antara 1874 hingga 2004, hanya sedia 12 spesimen yang diukur. Panjang (kepala dan badan) membayangkan bervariasi 49,5 cukup 67 cm dengan panjang ekor jarak 30 cukup 40,3 cm. Kucing ini diperkirakan memiliki beban dewasa 3–4 kg, tetapi sedikitnya contoh hidup menjadikan sulitnya menentukan perkiraan yang bertambah terpercaya.

Kepala kucing ini pendek bulat dan berwarna coklat gelap keabu-abuan dengan duet garis gelap yang berasal dari sudut saban mata, dan belahan belakang kepala memiliki tanda yang berbentuk 'M' gelap. Bagian belakang alat pendengar yang keabu-abuan gelap, sedikit bintik-bintik kucam antara yang ditemukan pada berjibun genus kucing lainnya. Bagian kaki (gunung) dagu berwarna kucam dan sedia duet garis coklat samar di belahan pipi. Proporsi awak dan ekornya yang banyak panjang membuat kucing ini terlihat bagaikan Jaguarundi gaya baru

Penyebaran dan Habitat Kucing Merah

Kucing ahmar yang endemik Kalimantan dan tersebar secara banglas di tanah itu. Tapi sedia duet meditasi laporan di pedalaman tanah itu. Informasi ini menunjukkan bahwa membayangkan berbentuk di berbagai jenis habitat, bervariasi dari jenggala rawa, alun-alun aib dipterocarp jenggala cukup jenggala bukit cukup sekurang-kurangnya 500 m (1.600 ft). Pada pertengahan 1990-an, penampakan yang paling bisa diandalkan menebak dilaporkan dari Sungai Kapuas Hulu di Kalimantan Barat, dan di Taman Nasional Gunung Palung. Salah ahad penampakan belum dikonfirmasi berlaku pada 1.800 m (5.900 ft) di Gunung Kinabalu. One unconfirmed sighting occurred at 1,800 m (5,900 ft) on Mount Kinabalu.

Mereka berumah di jenggala tropis yang lebat, dan menebak diamati pada singkapan berbatu kapur dan jenggala bekas tebangan, dan kaum ambang dengan pantai. Setidaknya tiga spesimen ditemukan di ambang sungai, tapi ini agak-agak atas kemudahan kolektor daripada bukti opsi habitat. Dari warsa 2003 cukup 2005, 15 kucing ahmar tercatat di Kalimantan, Sabah dan Sarawak tapi tidak di Brunei. Catatan-catatan ini terdiri dari pengamatan oportunistik tunggal. Hampir segala notasi sejarah dan baru-baru ini ialah dari ambang diri cairan bagaikan sungai dan jenggala bakau, menunjukkan bahwa kucing ahmar agak-agak berhubungan erat dengan lingkungan tersebut.

Sebuah survei peragkap alat potret dari bulan Juli 2008 cukup Januari 2009 di belahan barat laut dari Sabah Deramakot Forest Reserve di daerah sekitar 112 km2 (43 sq mi) menghasilkan ahad foto dari kucing ahmar lelaki di upaya total sampling dari 1916 lilin lebah perangkap. Catatan ini memperluas jangkauan kucing ahmar ke utara.

Alfred Russel Wallace mengirimkan jangat mula-mula dan tengkorak kucing ahmar dari Sarawak ke British Museum of Natural History pada warsa 1855.Sebanyak tujuh jangat berbentuk selama dekade berikutnya, tetapi tidak cukup 1992 ialah spesimen hidup terjebak di Sarawak - perbatasan Indonesia dan dibawa ke Museum Sarawak, di ambang kematian.

Ekologi dan tingkah laku Kucing Merah

 Perilaku gaib dan nokturnal kucing merah, dan agak-agak kepadatan populasi yang rendah, agak-agak melahirkan penyebab penting dari kelangkaan penampakan. Survei bantau alat potret warsa 2003-2006 hanya menghasilkan ahad foto dari kucing ahmar di 5.034 lilin lebah perangkap. Menurut notasi anekdot belum dikonfirmasi dari Sarawak, kucing ahmar diamati pada badal 1 m (3,3 kaki) dari tanah ambang dengan sungai selama bestel mengejar malam. Seorang kolektor hewan lokal di ambang Lachau, Sarawak, mengaku bahwa ia tidak sengaja menjebak duet kucing ahmar pada kesempatan terpisah pada bulan Desember 2003. Dia melaporkan bahwa kucing ahmar mencampuri kandang dan menyerang burung itu. Satu kucing meninggal di penangkaran, dan lainnya dibebaskan.Tidak sedia yang diketahui tentang ekologi makan dan perilaku reproduksi

Ancaman dan Konservasi Kucing Merah

 Pardofelis badia terdaftar di CITES Appendix II sebagai Catopuma badia. Hal ini habis-habisan dilindungi akibat perundang-undangan nasional di sebagian besar jangkauannya. Perburuan dan bursa ialah dilarang di Kalimantan, Sabah dan Sarawak. Tidak sedia kucing ahmar di penangkaran

 Pardofelis badia terdaftar di CITES Appendix II sebagai Catopuma badia. Hal ini habis-habisan dilindungi akibat perundang-undangan nasional di sebagian besar jangkauannya. Perburuan dan bursa ialah dilarang di Kalimantan, Sabah dan Sarawak. Tidak sedia kucing ahmar di penangkaran.

Taksonomi dan Evolusi Kucing Merah

Pada warsa 1874, John Edward Gray mula-mula kali menjelaskan kucing ahmar berdasarkan binomial badia Felis tempat dasar jangat dan tengkorak yang dikumpulkan di Sarawak pada warsa 1856. Kucing ini mula-mula kali dianggap sebagai anak kucing dari kucing emas Asia. Pada warsa 1932, Reginald Innes Pocock meletakkan genus di jenis monotypic Badiofelis. Pada warsa 1978, ia ditempatkan di jenis Catopuma.In 1978, it was placed in the jenis Catopuma.



Jaringan dan darah sampel diperoleh hanya pada warsa 1992-an dari betina dibawa ke Museum Sarawak. Analisis morfologi dan genetika menunjukkan hubungan erat dengan kucing emas Asia, dan bahwa kedua genus menebak dipisahkan dari ahad nenek leluhur untuk 4,9-5,3 juta tahun, antara setelah pemisahan geologi Kalimantan dari daratan Asia.




Klasifikasi Kucing ahmar sebagai Catopuma secara banglas diakui cukup 2006. Karena hubungan ambang terlihat dari kucing ahmar dan kucing emas Asia dengan kucing marmer, disarankan pada warsa 2006 bahwa ketiga genus kudu dikelompokkan di jenis Pardofelis.

Kucing Merah Dalam Sankar

Kucing Merah
Kucing Merah

Populasi kucing langka ini cukup kini tidak diketahui dengan pasti. Karena itu 2002 Kucing Merah (Borneo Bay Cat) dikategorikan di kedudukan pelestarian “endangered” (Terancam Punah) akibat IUCN Redlist. Dan juga dimasukkan di Apendiks II CITES. Di Indonesia dan Malaysia, Kucing Merah termasuk binatang yang dilindungi dari kepunahan.

Terimakasih sudah membaca esai Kucing Merah Khas Kalimantan ini, moga-moga bermanfaat dan bisa melihat langsung Kucing Merah.

Referensi

1. Hearn, A., Sanderson, J., Ross, J., Wilting, A., Sunarto, S. 2008. Pardofelis badia. In: IUCN 2012. IUCN Red List of Threatened Species. Version 2012.2.

2. Mohd-Azlan, J., Sanderson, J. (2007). "Geographic distribution and conservation kedudukan of the bay pencelup Catopuma badia, a Bornean endemic". Oryx 41: 394–397.

3. Povey, K., Sunarto, H. J. G., Priatna, D., Ngoprasert, D., Reed, D., Wilting, A., Lynam, A., Haidai, I., Long, B., Johnson, A., Cheyne, S., Breitenmoser, C., Holzer, K., Byers, O. (eds.) CBSG. (2009) Clouded Leopard and Small Felid Conservation Summit Final Report. IUCN/SSC Conservation Breeding Specialist Group: Apple Valley, MN.

4. Gray, J. E. (1874) Description of a new Species of Cat (Felis badia) from Sarawak. Proceedings of the Scientific meetings of the Zoological Society of London for the year 1874: 322–323

5. Sunquist, M.E., Leh, C., Hills, D. M., Rajaratnam, R. (1994). "Rediscovery of the Bornean Bay Cat". Oryx 28: 67–70.

6. Sunquist, M., Sunquist, F. (2002). Wild cats of the World. Chicago: University of Chicago Press. pp. 48–51. ISBN 0-226-77999-8.

7. Meijaard, E. (1997) The bay pencelup in Borneo. Cat News 27: 21–23

8. Payne, J. C. M., Francis, C. M. and Phillipps, K. (1985) A field guide to the mammals of Borneo. The Sabah Society, Kota Kinabalu, Malaysia.

9. Mohamed, A., Samejima, H., Wilting, A. (2009) Records of five Bornean pencelup species from Deramakot Forest Reserve in Sabah, Malaysia. Cat News 51: 12–15.

10. Nowell, K., Jackson, P. (1996) Bornean Bay Cat. In: Wild Cats: kedudukan survey and conservation action plan. IUCN/SSC Cat Specialist Group, Gland, Switzerland.

11. Rautner, M., Hardiono, M., Alfred, R. J. (2005) Borneo: treasure island at risk. Status of Forest, Wildlife, and related Threats on the Island of Borneo. WWF Germany.

12. Pocock, R.I. (1932) The marbled pencelup (Pardofelis marmorata) and some other Oriental species, with a definition of a new jenis of the Felidae. Proceedings of the Zoological Society of London, 102: 741–766.

13. Hemmer, H. (1978) The evolutionary systematics of living Felidae: present kedudukan and current problems. Carnivore 1(1): 71–79.

14. Johnson, W. E., Ashiki, F. S., Menotti Raymond, M., Driscoll, C., Leh, C., Sunquist, M., Johnston, L., Bush, M., Wildt, D., Yuhki, N., O'Brien, S. J. and Wasse, S. P. (1999). "Molecular genetic characterization of two insular Asian pencelup species, Bornean Bay pencelup and Iriomote cat". Di Vasser, S.P. Nevo, E. Evolutionary Theory and Process: Modern perspectives, Papers in Honour of Eviatar Nevo. Dordrecht: Kluwer Academic Publishing. pp. 223–248.

15. Wozencraft, W. C. (2005-11-16). Wilson, D. E., and Reeder, D. M. (eds), ed. Mammal Species of the World (3rd edition ed.). Johns Hopkins University Press. pp. 545–546. ISBN 0-801-88221-4.

16. Johnson, W. E., Eizirik, E., Pecon-Slattery, J., Murphy, W. J., Antunes, A., Teeling, E. and O'Brien, S. J. (2006) The late miocene radiation of modern felidae: A genetic assessment. Science 311: 73–77.

 

sekian info mengenai Kucing Merah Khas Kalimantan, semoga info ini dapat menghibur kalian semua terima kasih

 

 

Artikel ini diposting pada kategori penyakit pada kucing dan kera, penyakit pada kucing dan cara mengatasinya, , tanggal 09-09-2019

Komentar